Maudy Ayunda Soroti Pentingnya Batasi Arus Berita Negatif
Gita Novriandhani
Redaktur Hiburan & Pop Culture

Aktris dan pegiat pendidikan Maudy Ayunda menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah membagikan refleksi pribadinya mengenai kelelahan mental akibat paparan berita negatif (bad news) yang terus mengalir deras di linimasa digital. Ungkapan jujur tersebut memicu diskusi luas di kalangan warganet mengenai batas antara kepedulian sosial dan perlunya menjaga keseimbangan psikologis di era keterbukaan informasi.
Dinamika Opini Publik dan Refleksi Kesehatan Mental Digital
Pernyataan Maudy bermula dari diskusinya mengenai fenomena information overload, di mana arus kabar buruk di media sosial kerap menguras energi emosional masyarakat secara intensif. Sebagian netizen sempat menilai sikap membatasi konsumsi berita tersebut sebagai bentuk privilege, sementara sebagian lainnya memandang langkah tersebut sebagai bentuk kesadaran diri yang esensial untuk mencegah burnout digital.
“Kesehatan mental kita bergantung pada bagaimana kita mengatur konsumsi informasi harian. Menjaga batas bukan berarti tidak peduli, melainkan upaya agar kita tetap memiliki energi positif untuk berkontribusi secara nyata bagi lingkungan sekitar,” ungkap praktisi psikologi media dalam menanggapi fenomena tersebut.
Fenomena kelelahan informasi atau doomscrolling memang menjadi tantangan nyata bagi generasi muda perkotaan. Menghadapi gempuran kabar yang kerap memicu kecemasan, masyarakat dituntut untuk semakin terampil menyaring mana informasi yang konstruktif dan mana yang sekadar kebisingan digital.
Solusi Bijak: Menerapkan Mindful Consumption bagi Sobat SanaSini
Bagi Sobat SanaSini yang kerap merasakan beban serupa di dunia maya, terdapat langkah konkret yang dapat diambil untuk membangun ekosistem digital yang lebih sehat tanpa kehilangan kepekaan sosial:
Pertama, terapkan prinsip mindful consumption dengan menentukan jadwal khusus untuk membaca berita harian, sehingga waktu produktif dan waktu istirahat tetap seimbang. Kedua, prioritaskan konsumsi informasi dari kanal jurnalisme berkualitas yang menyajikan analisis berimbang serta jurnalisme berbasis solusi, bukan sekadar memicu sensasi emosional sesaat.
Ketiga, ubah empati menjadi aksi nyata di dunia nyata. Kepedulian terhadap isu-isu sosial tidak hanya diukur dari seberapa sering kita memantau perdebatan di media sosial, melainkan bagaimana kita mampu memberikan dampak positif, mulai dari lingkungan keluarga hingga komunitas terdekat. Dengan mengelola konsumsi informasi secara bijak, masyarakat dapat terus melangkah maju dengan pikiran yang jernih, optimis, dan penuh daya cipta.
Gita Novriandhani
Redaktur Hiburan Sanasini.news. Mengupas tren industri perfilman, panggung musik, kabar selebritas, dan denyut budaya populer.
